Lebih Dekat dengan Budaya Tionghoa di Surabaya

Jalan-Jalan Imlek  Perayaan tahun baru Imlek 2568 yang jatuh pada 28 Januari menjadi momen yang pas untuk jalan-jalan ke beberapa kampung cina di Surabaya. Surabaya memiliki beberapa kawasan pecinan yang dapat dijadikan jujukan wisata.
Salah satunya yang wajib dikunjungi adalah Klenteng Sanggar Agung. Tempat ibadah umat Buddha, Tao, dan Kong Hu Cu yang terletak di kawasan Kenjeran Lama ini menjadi destinasi paling populer menjelang perayaan tahun baru Cina.

Klenteng yang didirikan pada Tahun Baru Imlek 1999 ini terkenal dengan ikon patung Dewi Kwan Im dan Dua Naga besar yang menghadap ke laut. Selain dimanfaatkan masyarakat Tionghoa untuk sembayang dan ciswak (membuang sial), banyak pula masyarakat umum yang mendatangi lokasi ini untuk sekadar berfoto dan menikmati pemandangan di klenteng ini.

Terdapat altar utama dan beberapa altar lain yang mengelilingi bagian dalam Klenteng Sanggar Agung. Setiap altar menjadi tempat bagi umat yang datang untuk beribadah di depan patung Buddha dan arca dewa-dewi yang ada disana.

Selain klenteng yang terletak di Jl Kenjeran No. 100 ini, Masjid Cheng Ho juga bisa menjadi jujukan. Didirikan dengan perpaduan pas antara budaya china, jawa, dan timur tengah, masjid yang berdiri sejak hampir 15 tahun lalu ini menjadi salah satu jujukan bagi turis lokal maupun mancanegara ketika berkunjung ke Surabaya.

Warna merah yang mendominasi warna masjid, menyimbolkan kebahagiaan. Sementara warna kuning di beberapa bagiannya mempunyai makna suatu kedamaian. Ornamen atap masjid ini dibentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba. Angka delapan dianggap sebagai angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa, sedangkan sarang laba-laba merupakan sesuatu yang menyelamatkan Muhammad dari kejaran kaum Quraish.

Anak tangga di pintu kanan dan kiri masjid berjumlah 5 dan 6. Angka ini menyimbolkan rukun Islam dan rukun iman. Pintu masjid dibangun tanpa menggunakan daun pintu, hal ini melambangkan bahwa Masjid Cheng Ho Surabaya terbuka bagi siapa saja, tanpa melihat golongan.
Lokasi keduanya yang tidak jauh dari perkotaan sangat pas untuk dijadikan destinasi jalan-jalan kamu bersama matic kesayangan. Sudahkah kamu berkunjung ke dua tempat ini? Atau kamu punya referensi kampung pecinan lain yang bisa dikunjungi? Beritahu kami dengan mengisi kolom komentar di artikel ini ya! (DNA)

Baca Juga

Leave A Comment